Harta Ditangan Muslim…Siapa Bilang Soleh Harus Miskin??

Wahai ‘Amru, alangkah baiknya harta di tangan orang yang sholeh. (HR. Ahmad)

Islam ini bukan agama sufistik. Islam tidak menjadikan umatnya seperti pendeta-pendeta atau rahib-rahib yang membenci kehidupan dunia. Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci dunia, tetapi Islam memerintahkan kita untuk mengendalikan dunia, memanfaatkan dunia untuk bekal kita di akhirat.

Kata siapa Rasulullah adalah orang yang miskin. Kalau standar miskin adalah tidak punya handphone, mungkin memang benar Rasulullah miskin. Tapi kalau standarnya handphone, Abdurrahman bin Auf yang punya harta berlimpah juga terketegori miskin dong. Hehe, Cuma bercanda kok. Kalo standar miskin adalah baju yang bertambal, jarang makan enak dan kenyang, atau minum dari gelas-gelas emas, maka Rasulullah terkategori miskin. Tapi coba kita cek kekayaan Rasulullah.

Kalian pernah dengar Dzul-Lujjain? Dzul Lujjain itu pedang komando Rasulullah. Penelitian mengatakan bahwa perlu sekitar dua kilogram emas untuk menempanya menjadikan pedang yang begitu berkilat ketika terkena cahaya matahari. Kita hitung aja, harga emas satu gram berapa? Anggaplah dua ratus ribu, kalikan aja dua ribu gram. Empat ratus juta! Ya, untuk pedang saja Rasulullah mengalokasikan dana empat ratus juta, masa dibilang miskin.

Lihat pula Dul-dul, keledai yang diberikan Muqauqis kepada Rasulullah, keledai ini punya kemampuan lari yang cepat, cobalah kalian hitung sendiri jumlahnya kalau diuangkan. Kesimpulannya, siapa bilang Rasulullah miskin. Rasulullah adalah sosok yang sangat kaya, sangat kaya.

Lalu bagaimana dengan catatan sejarah yang menyebutkan beliau tidur di atas pelepah kurma, hingga membekas pada punggungnya. Bagaimana pula dengan cerita heroik dalam perang khandaq, dimana saat itu beliau mengganjal perutnya dengan dua batu karena tidak ada yang dimakan. Bagaimana pula dengan api yang tak pernah menyala di dapurnya selama dua purnama? Bukankah itu pertanda kesederhanaan beliau?

Kesederhanaan, iya. Tapi kalau kemiskinan, tidak. Kesederhanaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kemiskinan. Kalau kemiskinan, memang harus memiliki kesederhanaan. Itu pasti, karena kalau memang tidak punya apa-apa, ya tidak ada pilihan lain selain hidup sederhana. Tapi kalau kaya, tidak harus mewah bukan?

Kaya tidak harus mewah. Kekayaan di tangan seorang Muslim adalah untuk memudahkannya menggapai ridho Allah. Jadi, hartanya hanya dialokasikan untuk pengabdian pada Allah. Kalau tidak ada hubungannya dengan pengabdian pada Allah, maka seorang Muslim tidak akan pernah mengalokasikannya ke sana.

Contohnya Rasul, apa hubungannya ranjang yang empuk dengan ketaatan pada Allah? Justru kadang-kadang kasur yang empuk bisa melenakan. Saking nikmatnya tidur malah tidak bisa bangun untuk shalat malam, bahkan untuk shalat shubuh sekalipun. Tapi untuk hal yang berhubungan dengan pengabdian pada Allah, maka Rasul akan mengupayakan semaksimal mungkin.

Harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi pemeliharaan ketakwaan kepada Allah. (HR. Ad-Dailami)

Orang-orang fakir-miskin akan memasuki surga lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya memasukinya. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran. (HR. Ath-Thabrani)

Bagi seorang Muslim, harta adalah investasinya yang luar biasa untuk akhiratnya. Lihatlah orang-orang kaya di masa awal kenabian, justeru dengan kekayaannya-lah Allah menurunkan kemenangan bagi kaum Muslimin. Utsman bin Affan menginfaqkan bahan makanan untuk seribu orang, seribu ekor kuda, dan lain-lain. Abdurrahman bin Auf, Abu Bakr, dan para jutawan Muslim lainnya juga melakukan yang sama, mereka menjadikan harta kekayaannya sebagai investasi akhirat.

Itulah kenapa Rasulullah mengatakan bahwa

“…Alangkah baiknya harta di tangan orang yang shalih.” (HR. Ahmad)

karena di tangan Muslim yang shalih, harta akan ia gunakan untuk taat pada Allah, untuk menyebarluaskan Islam, untuk dakwah, untuk jihad, untuk membantu saudara sesama Muslim, untuk membebaskan budak, untuk membeli senjata, untuk membeli kuda yang bisa mengantarkan kemanapun pergi. Maka tepatlah kata Anis Matta, menjadi seorang Muslim harus kaya.

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah : 247)

Maaf, saya mengambil contoh Thalut, bukan berarti saya mengatakan Thalut adalah Muslim. Bukan, karena predikat Muslim hanya diberikan Allah kepada ummat Nabi Muhammad Saw. Sementara Thalut adalah ummat Nabi Dawud alaihissalam, yang memiliki satu kesamaan dengan kita, yaitu menyembah Allah dan tak menyekutukannya dengan yang lain.

Lihatlah Thalut, Allah memilihnya menjadi pemimpin karena Thalut adalah orang yang memiliki ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Lha, mana kayanya? Bukankah kita membahas tentang pentingnya menjadi orang shalih yang kaya? Tunggu dulu, memang kata kekayaan tidak disebutkan secara tegas dalam surah al-Baqarah ayat 247 itu. Tapi coba kita kaji lebih dalam; Thalut adalah orang yang ilmunya luas dan tubuhnya perkasa. Untuk memiliki ilmu yang luas, perlu alokasi dana yang tak sedikit. Kita saja, untuk dapat gelar doktor di bidang hadits, perlu berapa lama kuliah, berapa dana yang kita keluarkan? Bukankah untuk itu kita harus ‘kaya’ dulu?

Lalu, tubuh yang perkasa. Bukankah untuk membentuk tubuh yang perkasa diperlukan gizi yang cukup, makanan yang sehat, olah raga yang cukup, dan latihan yang ekstra. Bukankah untuk memenuhi itu semua tidak gratis?

Kesimpulannya, menjadi Muslim memang harus kaya. Tapi bukan berarti tidak boleh miskin. Keduanya mulia di sisi Allah, asalkan si miskin ini tetap berusaha dengan kualitas yang sama dengan si kaya. Dia berusaha agar bisa menjemput rizqi Allah yang sangat luas, agar dengan rizqi itu dia bisa menghidupi anak dan isterinya, dia bisa berinfaq untuk jihad fi sabilillah, dengan rizqi itu pula dia bisa berinvestasi untuk akhirat, dengan rizqi itu dia menuntut ilmu, dengan rizqi itu ia berjuang.

Dan, ketika saya mengatakan menjadi Muslim harus kaya, makna kekayaannya harus diluruskan dulu. Kekayaan bagi seorang Muslim, berbeda dengan kekayaan bagi seorang kapitalis sejati. Bagi seorang Muslim, kekayaan bukanlah jumlah mobil yang diparkir di depan rumah, bukan pula jumlah AC yang terpasang di setiap sudut rumah, bukan pula tabungan bermilyar-milyar di bank. Tapi kekayaan adalah apa yang kita kontribusikan untuk Islam.

Mari menjadi Muslim yang kaya, tapi kalo belum bisa, ayo jadi Muslim yang miskin dan bertaqwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s